Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Dapatkan Legal Opinion dari Konsultan Hukum KamiAjukan Proposal Sekarang!

Mulai dari Rp.2.500.000

Hal – Hal Yang Harus Diperhatikan Dalam Pemberian Wasiat Menurut Ketentuan Hukum Islam

Kronologis dan Peristiwa:

KlinikHukum.id yang saya banggakan, kami tiga bersaudara, memilliki harta warisan dari orang tua kami yang sudah meninggal. Saat ini kami hendak melakukan pembagian harta warisan menurut ketentuan Hukum Islam, namun masalah muncul ketika kami menyadari bahwa harta warisan yang hendak kami bagikan tersebut sebagian telah diwasiatkan oleh orang tua kami semasa hidup ke orang lain yang bukan ahli waris. Hal ini menjadi persoalan karena menurut kami jumlah bagian harta tersebut sangat besar untuk orang yang tidak memiliki hubungan darah dengan orang tua kami. Oleh karena itu terhadap hal ini kami mohon pencerahan dari bapak/ibu di KlinikHukum.id.

Pertanyaan :

Apakah ada kemungkinan untuk membatalkan wasiat menurut Hukum Islam?

Jawaban:

Saudara penanya, terima kasih atas pertanyaan anda. Di Indonesia, persoalan wasiat, hibah dan warisan diatur dengan dua hukum berbeda. Bagi mereka yang beragama Islama berlaku Hukum Islam sedangkan yang beragama selain Islam tunduk pada ketentuan Kitab Undang – Undang Hukum Perdata (BW). Berdasarkan keterangan yang anda sampaikan bahwa anda beragama Islam maka pada kesempatan kami akan menjelaskan wasiat menurut Hukum Islam.

Sebelum menjawab pertanyaan anda terlebih dahulu kami ingin menjelaskan pengertian wasiat yaitu  harta yang diwasiatkan seseorang sebelum meninggal dunia kepada seseorang yang bukan ahli warisnya dan seseorang tersebut baru berhak menerimanya setelah yang pemberi wasiat meninggal dunia.  Dalam wasiat terdapat terdapat hal – hal yang tidak boleh diabaikan  sekaligus menjadi syarat mutlak yanng harus dipenuhi dalam pelaksanaannya. Persoalan wasiat di Indonesia berpodoman pada Kompilasi Hukum Islam (KHI) yang dituangkan dalam Instruksi Presiden Nomor 1 Tahun 1991. Menurut KHI bahwa wasiat hanya dapat dilakukakan dengan syarat – syarat sebagai berikut:

  1. Oleh orang yang telah berumur sekurang-kurangnya 21 tahun, berakal sehat dan tanpa adanya paksaan dapat mewasiatkan sebagian harta bendanya kepada orang lain atau lembaga.
  2. Pemilikan terhadap harta benda baru dapat dilaksanakan sesudah pewasiat meninggal dunia.
  3. Harta yang diwasiatkan tidak melebihi 1/3 dari harta warisan kecuali semua ahli waris menyetujuainya.

Ketiga hal tersebut merupakan syarat mutlak yang harus dipenuhi dalam pemberian wasiat. Ketentuan tentang jumlah harta yang boleh diwasiatkan atau legitime portie benar – benar harus diperhatikan. Pada prinsipnya pewaris memiliki hak mutlak kepada siapa harta itu akan diberikan, tetapi menurut hukum, baik KHI maupun KUHPerdata, pemberian tersebut tidak boleh melebihi 1/3 karena dalam harta tersebut terdapat hak ahli waris yang tidak boleh diabaikan.

Baca Juga:  Cara Penyelesaian Perselisihan Hubungan Industrial

Selanjutnya terkait dengan pertanyaan anda tentang kemungkinan pembatalan wasiat. Menurut KHI wasiat batal apabila:

  1. Calon penerima wasiat berdasarkan putusan Hakim yang telah mempunyai kekuatan hukum tetap dihukum karena: dipersalahkan telah membunuh atau mencoba membunuh atau menganiaya berat kepada pewasiat; dipersalahkan secara memfitnah telah mengajukan pengaduan bahwa pewasiat telah melakukan sesuatu kejahatan yang diancam hukuman lima tahun penjara atau hukuman yang lebih berat; dipersalahkan dengan kekerasan atau ancaman mencegah pewasiat untuk membuat atau mencabut atau merubah wasiat untuk kepentingan calon penerima wasiat; dipersalahkan telah menggelapkan atau merusak atau memalsukan surat wasiat dan pewasiat.
  2. Orang yang ditunjuk untuk menerima wasiat itu: tidak mengetahui adanya wasiat tersebut sampai meninggal dunia sebelum meninggalnya pewasiat; mengetahui adanya wasiat tersebut, tapi ia menolak untuk menerimanya; mengetahui adanya wasiat itu, tetapi tidak pernah menyatakan menerima atau menolak sampai ia meninggal sebelum meninggalnya pewasiat.
  3. Barang yang diwasiatkan musnah.

Dengan demikian sangat jelas bahwa wasiat tidak batal karena banyaknya jumlah harta yang diwasiatkan selama tidak melebihi legitime portie. Oleh karena itu kepada saudara penanya saya sarankan untuk tunduk pada ketentuan hukum yang berlaku, karena hukum telah menentukan hak anda sebagai ahli waris dan hak pewaris untuk  memberikan sebagian hartanya kepada orang lain yang dikehendakinya. Demikian jawaban kami. Wallahu a’lam.

Tim KlinikHukum.id

Apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?

Rating rata-rata 4.8 / 5. 17

Maafkan kami artikel ini tidak bermanfaat bagi anda!

Berikan saran anda kepada kami tentang artikel ini

(Visited 13,253 times, 1 visits today)
Advokatus
+ Artikel Lainnya

Advokatus adalah tim yang berpengalaman menyajikan konten hukum berkualitas di IDLEGAL. Selain itu para advokatus juga bertugas menjawab pertanyaan atas permasalahan hukum yang diajukan pada fitur Forum Konsultasi Hukum Online di platform ini.

Kesulitan membuat kontrak?---Hubungi kami sekarang!---

Mulai Rp.500.000, sudah termasuk konsultasi