Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Dapatkan Legal Opinion dari Konsultan Hukum KamiAjukan Proposal Sekarang!

Mulai dari Rp.2.500.000

Perbedaan Putusan Sela Dan Putusan Akhir Pada Sidang Pengadilan

Putusan hakim pada dasarnya dapat dibedakan ke dalam beberapa jenis, baik berdasarkan sifatnya, kehadiran para pihak serta waktu penjatuhannya. Putusan sela dan putusan akhir merupakan jenis putusan hakim berdasarkan waktu penjatuhannya. Pada artikel kali ini, kami akan fokus menjelaskan pengertian dan perbedaan kedua jenis putusan tersebut.  Pembahasa terhadap semua jenis putusan hakim dapat anda baca  pada artikel yang berjudul: “Jenis – Jenis Putusan Hakim Dalam Hukum Acara Perdata”

Pengertian

Putusan sela atau tussen vonnis adalah putusan yang dijatuhkan sebelum putusan akhir dimana dimaksudkan untuk memungkinkan atau mempermudah kelanjutan pemeriksaan perkara. Sedaangkan Putusan akhir  atau eind vonnis adalah suatu putusan yang bertujuan mengakhiri dan menyelesaikan suatu perkara  yang sedang berlangsung  pada satu tingkat peradilan tertentu, yakni pengadilan tingkat pertama, pengadilan tinggi dan Mahkamah Agung. Berdasarkan pengertian tersebut  nampak perbedaan keduannya. Berikut ini adalah ulasan dari masing – masing putusan tersebut.

Putusan Sela

Dari pengertian di atas beberapa hal dapat disimpulkan, yaitu sebagai berikut:

  1. Putusan yang dijatuhkan pada saat berlangsungnya sidang pemeriksaan perkara, dimana tujuan adalah untuk memperlancar jalannya proses
  2. Putusan tidak mengakhiri pemeriksaan, tetapi akan mempengaruhi arah dan jalannya proses persidangan.
  3. Putusan sela dibuat dan ditulis dalam berita acara persidangan saja dan harus diucapkan di depan sidang yang terbuka untuk umum serta ditanda tangani oleh majelis hakim dan panitera yang turut bersidang.
  4. Putusan tidak berdiri sendiri sehingga tunduk pada putusan akhir. Putusan terbut juga dapat menjadi pertimbangan putusan akhir.
  5. Hakim tidak terikat pada putusan tersebut, artinya ia dapat melakukan perubahan sesuai dengan keyakinannya.
  6. Tidak ada banding terhadap jenis putusan in.
  7. Masing – masing pihak akan mendapat salinan dari putusan sela tersebut dengan biaya sendiri.

Selanjutnya putusan jenis ini pada praktek peradilan juga dapat dikelompokkan ke dalam beberapa jenis, yaitu sebagai berikut:

  1. Putusan prepatoir, yakni putusan yang dijatuhkan oleh hakim yang tujuannya untuk mempersiapkan dan mengatur pemeriksaan perkara. Oleh karena itu putusan ini tidak berpengaruh terhadap pokok perkara. Contoh dari putusan jenis ini adalah putusan yang menetapkan bahwa gugat balik (gugatan rekonvensi) tidak diputus bersama-sama dengan gugatan konvensi atau putusan yang menolak/ menerima penundaan sidang dikarenakan alasan yang tidak dapat diterima, atau putusan yang memerintahkan pihak tergugat asli (principal) datang mengahadap sendiri di persidangan.
  2. Putusan interlukotoir, yakni putusan yang dijatuhkan oleh hakim dimana amar putusan tersebut berisi perintah pembuktian dan dapat mempengaruhi pokok perkara. Contoh putusan ini adalah putusan yang berisi perintah untuk memberikan keterangan ahli.
  3. Putusan Insidentil, yaitu putusan yang berhubungan dengan adanya insiden atau kejadian tertentu, yang dapat menunda jalannya persidangan. Misalnya, adanya gugatan intervensi dan putusan insidentil dalam sita jaminan.
  4. Putusan Provisionil, yaitu putusan terhadap permohonan Keputusan ini menetapkan suatu tindakan sementara bagi kepentingan salah satu pihak sebelum putusan akhir dijatuhkan. Contoh : putusan yang berisi perintah agar kepada salah satu pihak untuk menghentikan pembangunan sementara di atas tanah yang menjadi obyek sengketa.
Baca Juga:  Cara Dan Prosedur Pengajuan Isbat Nikah Di Pengadilan Agama

Putusan Akhir

Hal pokok yang membedakan antara putusan akhir dengan putusan sela adalah tujuan dari putusan tersebut, dimana tujuan putusan akhir adalah untuk mengakhiri perkara, sedangkan putusan sela dimaksudkan hanya untuk memperlancar jalannya pemeriksaan perkara. Begitu juga dengan sifat putusan akhir yang berdiri sendiri sementara putusan sela tidak berdiri sendiri.  Kemudian dalam hal waktu penjantuhan putusan, putusan sela selalu lebih dulu dari putusan akhir. Dalam hal tergugat menggunakan haknya untuk memberikan eksepsi dan eksepsi ditolak maka hakim akan menjatuhkan putusan yang menyatakan penolakan terhadap eksepsi tergugat serta memerintahkan untuk melanjutkan pemeriksaan perkara. Kemudian, apabila eksepsi tersebut diterima maka hakim langsung menjatuhkan putusan akhir dan mengakhiri pemeriksaan perkara.

Kesimpulan

Perbedaan pokok putusan sela dan putusan akhir terletak pada tujuannya. Putusan pertama dimaksudkan untuk memperlancar pemeriksaan perkara, sementara putusan kedua bertujuan untuk mengakhiri perkara.  Kemudian putusan sela tidak berdiri sendiri dan dapat dibagi menjadi; Putusan prepatoir, Putusan interlukotoir, Putusan Insidentil dan Putusan Provisionil. Sedangkan putusan akhir berdiri sendiri.

Apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?

Rating rata-rata 3.6 / 5. 5

Maafkan kami artikel ini tidak bermanfaat bagi anda!

Berikan saran anda kepada kami tentang artikel ini

(Visited 4,951 times, 5 visits today)
Advokatus
+ Artikel Lainnya

Advokatus adalah tim yang berpengalaman menyajikan konten hukum berkualitas di IDLEGAL. Selain itu para advokatus juga bertugas menjawab pertanyaan atas permasalahan hukum yang diajukan pada fitur Forum Konsultasi Hukum Online di platform ini.

Kesulitan membuat kontrak?---Hubungi kami sekarang!---

Mulai Rp.500.000, sudah termasuk konsultasi