Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Search in posts
Search in pages
Dapatkan Legal Opinion dari Konsultan Hukum Kami Ajukan Proposal Sekarang!

Mulai dari Rp.2.500.000

Ketentuan Umum Hukum Waris Menurut Kitab Undang – Undang Hukum Perdata

5
(1)
Hukum Waris
Ketentuan Umum Kewarisan Dalam KUHPerdata

Persoalan kewarisan diatur secara rinci dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata atau KUHPerdata, khususnya pada title buku II, dimana pengaturan tersebut secara garis besarnya mengatur tentang Syarat Umum Pewarisan, Prinsip Umum Pewarisan dan Cara Mendapatkan Warisan. Pada artikel kali ini, tim advokatus dari KlinikHukum.ID akan menjelaskan tentang ketentuan umum hukum waris tersebut.

Syarat Umum Pewarisan

Ada dua hal yang menjadi syarat mutlak terjadinya pewarisan bedasarkan KUHPerdata, yaitu sebagai berikut:

  1. Erflater atau orang yang meninggal dunia yang disebut pewaris. Pasal 830 KUHPerdata menyebutkan bahwa pewarisan hanya berlangsung karena kematian.
  2. Erfgenaam atau orang yang masih hidup pada saat pewaris meninggal dunia yang disebut sebagai ahli Waris. Dasarnya adalah Pasal 836 KUHPerdata dimana diatur bahwa ahli waris harus ada pada saat harta warisan terbuka. Terkait dengan hal ini dan berdasarkan ketentuan pasal 2 ayat (2) KUHPerdata, bahwa bayi yang masih dalam kandungan dapat dianggap sebagai ahli waris, karena termasuk subjek hukum apabila ia dilahirkan hidup.

Prinsip Umum Pewarisan

Dirangkum dari beberapa ketentuan pada pasal – pasal KUHPerdata, maka disimpulkan beberapa hal yang merupakan prinsip umum pewarisan, yaitu sebagai berikut:

  1. Pada dasarnya hanya hak dan kewajiban di bidang kekayaan yang dapat diwariskan oleh pewaris kepada ahli warisnya. Hak dan kewajiban yang tidak dapat dialihkan, misalnya keanggotaan dalam perseoranang, kuasa tertentu, hak pakai dan sebagainya.
  2. Hak dan kewajiban pewaris di bidang kekayaan beralih ke ahli warisnya seketika pada saat ia meninggal duania.
  3. Secara umum ahli waris adalah keluarga yang sedarah dengan pewaris.
  4. Pada dasarnya harta peninggalan harus terbagi habis.
  5. Pada dasarnya, setiap orang termasuk bayi yang baru lahir cakap mewaris, kecuali mereka dinyatakan tak patut mewaris.
Baca Juga:  Apa itu AMDAL, Tujuan Serta Manfaatnya?

Cara Mendapatkan Warisan

Pada prinsipnya, untuk mendapatkan warisan dapat dilakukan dengan dua cara, yaitu sebagai berikut:

  1. Pewarisan secara intestato atau testamentair, yakni pewarisan karena ditunjuk dalam surat wasiat atau
  2. Pewarisan secara ab-intestato, yaitu pewarisan berdasarkan ketentuan undang – undang, dimana dilakukan hanya apabila sipewaris meninggal dengan tidak meninggalkan wasiat.

Demikian beberapa Ketentuan Umum Hukum Waris yang dirangkum dari pasal – pasal dalam KUHPerdata. Semoga bermanfaat. Terima kasih.

Apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?

Rating rata-rata 5 / 5. 1

Maafkan kami artikel ini tidak bermanfaat bagi anda!

Berikan saran anda kepada kami tentang artikel ini


Tim KlinikHukum.id

Advokatus adalah tim yang berpengalaman menyajikan konten hukum berkualitas di IDLEGAL. Selain itu para advokatus juga bertugas menjawab pertanyaan atas permasalahan hukum yang diajukan pada fitur Forum Konsultasi Hukum Online di platform ini.
(Visited 101 times, 4 visits today)

Kesulitan membuat kontrak?

Hubungi kami sekarang!

Mulai Rp.500.000, sudah termasuk konsultasi