Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Dapatkan Legal Opinion dari Konsultan Hukum KamiAjukan Proposal Sekarang!

Mulai dari Rp.2.500.000

Status Hukum Anak di Luar Nikah

Persoalan anak yang lahir di luar nikah sering kita jumpai dalam masyarakat. Persoalan ini sangat penting untuk dipahami karena berkaitan dengan status hukum si anak serta akibat hukum yang terkait lainnya, seperti masalah perwalian dan warisan. Pada artikel kali ini, tim KlinikHukum.ID akan menguraikan tentang satus hukum anak di luar nikah tersebut.

Pertama-tama harus dipahami bahwa, sesuai dengan ketentuan hukum nasional status anak dibedakan atas dua yakni; anak sah dan anak di luar nikah atau dalam hukum Islam disebut anak zinah. Anak sah sebagaimana disebutkan dalam Undang – Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan pasal 42, bahwa Anak yang sah adalah anak yang dilahirkan dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah. Sedangkan menurut menurut Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 99, bahwa anak sah adalah: (a) anak yang lahir dalam atau sebagai akibat perkawinan yang sah.(b). Hasil pembuahan suami istri yang sah di luar rahim dan dilahirkan oleh istri tersebut.

Selanjutnya, yang dimaksud anak di luar nikah adalah anak yang dibuahi dan dilahirkan di luar pernikahan yang sah, Anak di luar nikah dalam berbagai peraturan perundang-undangan nasional memiliki konsekuensi baik dalam hal perdata ataupun dalam hal nasab. Dalam hal perdata, pasal 43 ayat (1) Undang-Undang Perkawinan menyebutkan bahwa; Anak yang dilahirkan di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan perdata dengan ibunya dan keluarga ibunya.

Ketentuan dalam pasal tersebut kemudian mengalami perubahan setelah diadakan judicial review oleh Mahkamah Konstitusi atas gugatan yang diajukan oleh Machicha Muchtar, dimana kemudian diubah menjadi “anak yang dilahirkan di luar perkawinan mempunyai hubungan perdata dengan kedua orang tua biologis dan keluarganya dapat mengajukan tuntutan ke pengadilan untuk memperoleh pengakuan dari ayah biologisnya melalui ibu biologisnya”

Dalam hal hubungan nasab, Kompilasi Hukum Islam (KHI) pasal 100, menyebutkan bahwa anak yang lahir di luar perkawinan hanya mempunyai hubungan nasab dengan ibunya dan keluarga ibunya. Ketentuan tentang hal ini diperkuat oleh oleh beberapa hadits shahih, antara lain;

Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam memberi keputusan bahwa anak dari hasil hubungan dengan budak yang tidak dia miliki, atau hasil zina dengan wanita merdeka TIDAK dinasabkan ke bapak biologisnya dan tidak mewarisinya… (HR. Ahmad, Abu Daud, dihasankan Al-Albani serta Syuaib Al-Arnauth).

Nasab berkaitan dengan persoalan perwalian anak. Oleh karena itu wali nikah anak di luar nikah bukan bapak biologisnya tetapi Anak laki-laki ke bawah, jika dia janda yang sudah memiliki anak serta Hakim (pejabat resmi KUA).

Baca Juga:  Petunjuk Lengkap Cara Pendirian PT (Perseroan Terbatas)

Baca juga: “Mau Nikah Siri ?, Ketahui Dulu Dampaknya Secara Hukum”

Kesimpulan:
Dalam hal perdata, anak di luar nikah memiliki hubungan perdata baik terhadap ibu maupun ayah biologisnya. Sedangkan dalam hal nasab, anak yang lahir bukan dari hasil perkawinan yang sah hanya memiliki hubungan nasab dengan ibunya. Wallahu a’lam!

Apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?

Rating rata-rata 5 / 5. 1

Maafkan kami artikel ini tidak bermanfaat bagi anda!

Berikan saran anda kepada kami tentang artikel ini

(Visited 63 times, 1 visits today)
Advokatus
+ Artikel Lainnya

Advokatus adalah tim yang berpengalaman menyajikan konten hukum berkualitas di IDLEGAL. Selain itu para advokatus juga bertugas menjawab pertanyaan atas permasalahan hukum yang diajukan pada fitur Forum Konsultasi Hukum Online di platform ini.

Kesulitan membuat kontrak?---Hubungi kami sekarang!---

Mulai Rp.500.000, sudah termasuk konsultasi