Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Dapatkan Legal Opinion dari Konsultan Hukum KamiAjukan Proposal Sekarang!

Mulai dari Rp.2.500.000

Cara dan Prosedur Mengajukan Gugatan Cerai di Pengadilan Agama

Kronologis & Peristiwa:

Assalamu ‘alaikum KlinikHukum.id, saya seorang isteri sudah menjalani kehidupan rumah tangga selama lebih dari lima tahun. Beberapa bulan belakangan kehidupan rumah tangga saya tidak lagi seperti sebelumnya. Ada banyak masalah antara saya dan suami saya yang menyebabkan hubungan kami tidak harmonis. Saya sudah melakukan banyak hal untuk memperbaiki hubungan kami agar bisa kembali seperti dulu lagi, namun tetap tidak ada hasil. Saat ini saya merasa bahwa satu – satunya cara untuk mengakhiri persoalan rumah tangga saya adalah bercerai di Pengadilan Agama. Oleh karena itu saya ingin petunjuk dari Tim KliniHukum.id tentang prosedur gugatan cerai tersebut.

Pertanyaan:

Bagaimana cara dan prosedur gugatan cerai di Pengadilan Agama?

Jawaban:

Ibu yang terhormat, terima kasih atas pertanyaan anda. Sebelum menjawab pertanyaan ibu kami dari tim KlinikHukum.id ingin mengingatkan kembali bahwa dalam Islam perceraian meskipun halal tetapi sangat dibenci oleh Allah SWT, oleh karena itu perceraian hendaknya menjadi jalan terakhir yang ditempuh di dalam kehidupan berumah tangga. Perceraian hanya dapat dilakukan bilamana terpenuhi alasan – alasan yang telah ditentukan. Adapun alasan – alasan tersebut disebutkan melalui Pasal 39 ayat 2 UU No. 1 tahun 1974 tentang Perkawinan Jo Pasal 19 Peraturan Pemerintah No. 9 Tahun 1975 Tentang Pelaksanaan Undang-Undang Nomor 1 Tahun 1974 Tentang Perkawinan yakni sebagai berikut:

  1. Salah satu pihak berbuat zina atau menjadi pemabok, pemadat, penjudi dan lain sebagainya yang sukar disembuhkan;
  2. Salah satu pihak meninggalkan yang lain selama 2 (dua) tahun berturut-turut tanpa izin pihak yang lain dan tanpa alasan yang sah atau karena hal lain diluar kemampuannya;
  3. Salah satu pihak mendapat hukuman penjara 5 (lima) tahun atau hukuman yang lebih berat setelah perkawinan berlangsung;
  4. Salah satu pihak melakukan kekejaman atau penganiayaan berat yang membahayakan terhadap pihak yang lain;
  5. Salah satu pihak mendapat cacat badan atau, penyakit yang mengakibatkan tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai suami/isteri;
  6. Antara suami dan isteri terus menerus terjadi perselisihan dan pertengkaran dan tidak ada harapan akan hidup rukun lagi dalam rumah-tangga;
  7. Suami melanggar taklik-talak;
  8. Peralihan agama atau murtad yang menyebabkan terjadinya ketidakrukunan dalam rumah tangga.
Baca Juga:  Perbedaan Harta Bawaan Dan Harta Bersama Bagi Pasangan Suami Isteri

Selanjutnya terkait dengan pertanyaan ibu tentang cara dan prosedur mengajukan gugatan cerai di Pengadilan Agama. Gugatan cerai adalah cara isteri untuk mengajukan cerai terhadap suami, sedangangkan permohonan cerai adalah cara suami mengajukan cerai terhadap isterinya, dimana keduanya dilakukan di Pengadilan Agama dimana isteri berdomisili. Adapun cara dan prosedurnya, baik gugatan ataupun permohonan cerai memiliki kesamaan. Berikut adalah cara dan prosedur pengajuan gugatan cerai di Pengadilan Agama:

  1. Mengajukan gugatan secara tertulis ataupun lisan ke pengadilan Agama dimana isteri berdomisili.
  2. Gugatan tersebut memuat identitas, yakni Nama, umur, pekerjaan, agama dan tempat kediaman Penggugat dan Tergugat. Positia dan Petitum juga harus dimuat di dalam gugatan. Posita adalah fakta – fakta hukum sedangkan petitum adalah permintaan.
  3. Permintaan soal pengasuhan anak dan pembagian harta diajukan secara bersama – sama dalam gugatan.
  4. Membayar biaya perkara.

Selanjutnya mengenai tahapan penyelesaian perkara di Pengadilan Agama, yaitu sebagai berikut:

  1. Penggugat mendaftarkan gugatannya di Pengadilan Agama
  2. Penggugat dan tergugat dipanggil untuk menghadiri persidangan.
  3. Putusan. Setelah putusan memperoleh kekuatan hukum tetap maka panitera Pengadilan Agama/Mahkamah Syari’ah memberikan Akta Cerai sebagai surat bukti cerai kepada kedua belah pihak selambat-lambatnya 7 (tujuh) harisetelah putusan tersebut diberitahukan kepada para pihak.

Demikian jawaban kami. Terimakasih.

 

Tim KiliniHukum.id

Apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?

Rating rata-rata 5 / 5. 1

Maafkan kami artikel ini tidak bermanfaat bagi anda!

Berikan saran anda kepada kami tentang artikel ini

(Visited 56 times, 1 visits today)
Advokatus
+ Artikel Lainnya

Advokatus adalah tim yang berpengalaman menyajikan konten hukum berkualitas di IDLEGAL. Selain itu para advokatus juga bertugas menjawab pertanyaan atas permasalahan hukum yang diajukan pada fitur Forum Konsultasi Hukum Online di platform ini.

Kesulitan membuat kontrak?---Hubungi kami sekarang!---

Mulai Rp.500.000, sudah termasuk konsultasi