Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Dapatkan Legal Opinion dari Konsultan Hukum KamiAjukan Proposal Sekarang!

Mulai dari Rp.2.500.000

Perbedaan Hak Tanggungan, Hipotik, Gadai dan Fidusia

Jaminan Hutang: Hak tanggungan, hipotek, fidusia dan gadai
Apa saja perbedaan antara hak tanggungan, hipotek, fidusia dan gadai?

Hak tanggungan, hipotek, fidusia dan gadai pada prinsipnya memiliki kesamaan sebagai jaminan hutang. Ketiganya juga merupakan perjanjian assesoir atau perjanjian ikutan yang tidak berdiri sendiri tetapi mengikuti perjanjian pokok yakni perjanjian hutang piutang. Namun demikian terdapat perbedaan yang sangat mendasar di antara keempat jenis perjanjian jaminan hutang tersebut. Berikut ini adalah ulasan lengkapnya.

Hak Tanggungan

Pada awalnya hak tanggungan dikenal sebagai hipotik atas tanah yang diatur dalam Kitab Undang – Undang Hukum Perdata. Kemudian ketentuan dalam KUHPerdata tersebut digantikan Undang – Undang Nomor 5 Tahun 1960 Tentang Pokok – Pokok Agraria yang berlaku hingga keluarnya Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan.

Adapun yang dimaksud sebagai hak tanggungan adalah suatu hak kebendaan yang harus dibuat dengan akta otentik dan didaftarkan serta bersifat assesoir dan eksekutorial, yang diberikan oleh debitor kepada kreditor sebagai jaminan atas pembayaran hutang – hutangnya, yang berobjekkan tanah dengan atau tanpa segala sesuatu yang ada di atas tanah tersebut, dengan memberikan hak prioritas untuk mendapatkan pelunasan piutang terlebih dahulu daripada kreditor lainnya.

Dari pengertian tersebut kemudian dapat dirangkum beberapa hal tentang hak tanggungan, yaitu sebagai berikut:

  1. Objek hak tanggungan adalah hak atas tanah, yakni berupa hak milik, hak guna usaha, hak guna bangunan dan hak pakai. Rumah atau bangunan yang ada di atas tanah juga dapat dijadikan objek hak tanggungan;
  2. Merupakan hak kebendaan sehingga tetap mengikuti kemana pun objeknya dialihkan;
  3. Pemegang hak tanggungan berhak didahulukan untuk mendapatkan pelunasan hutang;
  4. Eksekusi dapat dilakukan baik secara “mendaku”/ mengakui sebagai ”aku punya”, menjual secara bawah tangan, menjual dengan lelang sendiri atau melalui kantor lelang, atau eksekusi dengan menggunakan jalur gugatan di pengadilan;
  5. Dibuat berdasarkan “Akta Pemberian Hak Tanggungan”, yang diterbitkan oleh Pejabat Pembuat Akta Tanah (PPAT).

Hipotik

Secara bahasa hipotik berasal dari bahasa Romawi, yakni “hypoteca”, yang berarti pembebanan. Sedangkan dalam bahasa Belanda dikenal dengan istilah “onderzetting”.  Pengertian hipotik sendiri adalah hak kebendaan dan merupakan perjanjian assesoir dari perjanjian hutang – piutang, yang merupakan jaminan atas hutang dimaksud dimana objeknya adalah benda tidak bergerak yang penguasaanya tidak diserahkan kepada kreditor, dimana kreditor atau pemegang hipotik tersebut memiliki hak preferensi untuk mendapatkan pelunasan piutang.

Pada awalnya objek hipotik pada awalnya meliputi semua benda tidak bergerak, yakni tanah dan kapal laut dengan kapasitas 20 meter kubik atau lebih sebagai diatur dalam KUHPerdata. Namun saat ini hanya kapal laut saja yang dapat dijaminkan sebagai hak hipotik, sedangkan tanah dijaminkan sebagai hak tanggungan berdasarkan Undang – Undang Nomor 4 Tahun 1996 Tentang Hak Tanggungan.

Antara hak tanggungan dan hak hipotik pada dasarnya memiliki kesamaan dalam hal sebagai jaminan hutang, perjanjian assesoir, hak kebendaan, kreditor memiliki hak preferensi dan harus dibuat berdasarkan akta, dimana untuk hipotik tentu saja dibuat dengan “akta hipotik”. Eksekusi hipotik tidak  dapat dilakukan dengan cara “mendaku” namun dapat dilakukan dengan cara fiat eksekusi, yakni melalui penetapan pengadilan, secara parate eksekusi menjual tanpa penetapan pengadilan di pelelangan umum atau dengan cara gugata ke pengadilan.

Baca Juga:  Jenis – Jenis SIM dan Syarat Mendapatkannya

Fidusia

Fidusia diatur melalui Undang – Undang Nomor 42 Tahun 199 Tentang Fidusia. Fidusia dalam bahasa Belanda disebut dengan “Fiduciare Eigendom Overdracht” atau  dalam bahasa Inggris “Fiduciary Transfer of Ownership”. Oleh karena istilah fidusia tersebut memiliki persamaan arti dengan “Penyerahan Hak Milik Secara Kepercayaan”.

Lengkapnya fidusia dapat diartikan sebagai jaminan hutang yang bersifat kebendaan, baik hutang yang telah ada maupun hutang yang akan ada, yang pada prinsipnya berobjekkan benda bergerak yang tidak dapat dijaminkan dengan hipotik atau hak tanggungan dimana penguasaan dan penikamatan benda yang dijaminkan tersebut diserahkan atau dikembalikan pada debitor berdasarkan kepercayaan.

Seperti halnya hak tanggungan dan hipotek, pembebanan fidusia harus berdasarkan akta yakni “akta jaminan fidusia” yang dibuat oleh notaris. Hak preferensi juga diberikan bagi pemegang fidusia. Dalam hal objek jaminan, hak tanggungan, hipotek dan fidusia memiliki perbedaan, dimana objek fidusia berupa benda bergerak. Kemudian eksekusi jamian fidusia dapat dilakukan baik secara bawah tangan maupun melalui gugatan di pengadilan.

Gadai

Pengertian gadai adalah suatu hak kebendaan yang bersifat assessoir, yang diberikan oleh pemberi gadai (debitor) kepada pemegang gadai (kreditor) sebagai jaminan atas pembayaran utang – utangnya, dengan menyerahkan benda objek gadai tersebut ke dalam kekuasaan pemegang gadai, atau pihak ketiga yang disetujui kedua belah pihak, yang berobjekkan benda bergerak, berwujud atau tidak berwujud, dengan memberikan hak kepada pihak yang menguasai benda tersebut untuk memakai atau menikmati hasil dari benda dimaksud. Pemegang gadai juga memiliki hak preferensi untuk pelunasan piutang.

Perbedaan pokok antara gadai dengan dengan hak tanggungan dan hipotik terletak pada obyeknya, dimana obyek gadai harus berupa benda bergerak. Sementara perbedaannya dengan fidusia meskipun keduanya berobjekkan benda tidak bergerak, namun pada benda jaminan diserahkan kepada pemegang gadai atau kreditor berikut hak untuk memakai atau memanfaatkannya.

Selanjutnya eksekusi gadai dapat dilakukan dengan cara menjual di pelelangan umum, dengan cara “mendaku” dengan catatan atas persetujuan hakim atau kreditor hanya boleh menahan objek gadai sebesar jumlah piutang yang belum dibayarkan, dengan cara eksekusi bawah tangan, menjual dengan cara yang ditentukan oleh hakim atau eksekusi melalui bursa.

Kemudian perikatan gadai  tidak  harus berdasarkan akta atau surat autentik namun dapat dibuat surat bawah tangan bahkan dengan cara lisan saja.   

Apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?

Rating rata-rata 4.4 / 5. 19

Maafkan kami artikel ini tidak bermanfaat bagi anda!

Berikan saran anda kepada kami tentang artikel ini

(Visited 14,573 times, 65 visits today)
Advokatus
+ Artikel Lainnya

Advokatus adalah tim yang berpengalaman menyajikan konten hukum berkualitas di IDLEGAL. Selain itu para advokatus juga bertugas menjawab pertanyaan atas permasalahan hukum yang diajukan pada fitur Forum Konsultasi Hukum Online di platform ini.

Kesulitan membuat kontrak?---Hubungi kami sekarang!---

Mulai Rp.500.000, sudah termasuk konsultasi