Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Dapatkan Legal Opinion dari Konsultan Hukum KamiAjukan Proposal Sekarang!

Mulai dari Rp.2.500.000

Makna Dissenting Opinion Pada Putusan Hakim

Istilah Dissenting Opinion secara umum merujuk pada perbedaan pendapat dari majelis hakim dalam memutus suatu perkara hukum.  Dari beberapa referensi ditemukan beberapa defenisi khusus tentang istilah tersebut, misalnya antara lain Black Law Dictionary 9th Edition mendefenisikan dissenting opinion adalah:

An opinion by one or more judges who disagree with the decision reached by the majority. — Often shortened to dissent. — Also termed minority opinion.

Dimana pengertian tersebut dapat diterjemahkan sebagai pendapat dari satu atau lebih hakim yang tidak setuju dengan keputusan yang dicapai oleh mayoritas.

Idealnya, putusan hakim terhadap suatu perkara adalah mufakat dengan suara bulat. Namun perbedaan pendapat tetap tidak dapat dihindarkan.  Oleh karena itu, di dalam praktek terdapat tiga jenis putusan hakim yang berbeda dimana salah satunya adalah dissenting opinion. Adapun ketiga jenis putusan tersebut adalah sebagai berikut:

  • Unanimous, yaitu putusan pengadilan yang diputus berdasarkan suara bulat dari para hakim yang mengadili perkara tersebut.
  • Concurring Opinion, yaitu apabila pendapat seorang Hakim mengikuti sependapat dengan pendapat Hakim yang mayoritas tentang amar putusan, misalnya setuju koruptor tersebut dihukum 8 tahun, tapi dia hanya menyatakan berbeda dalam pertimbangan hukum (legal reasoning) nya.
  • Dissenting Opinion, yaitu apabila seorang Hakim berbeda pendapat dengan Hakim yang mayoritas, baik tentang pertimbangan hukum maupun amar putusannya. Pendapat Hakim yang disssenting opinion tersebut dimuat dalam putusan secara lengkap dan diletakan sebelum amar putusan.

Pengaturan tentang dissenting opinion dapat ditelusuri dalam Undang – Undang Tentang Kekuasaan Kehakiman (UU. No 48/2009), yakni pada pasal 14 dimana disebutkan bahwa:

  1. Putusan diambil berdasarkan sidang permusyawaratan hakim yang bersifat rahasia.
  2. Dalam sidang permusyawaratan, setiap hakim wajib menyampaikan pertimbangan atau pendapat tertulis terhadap perkara yang sedang diperiksa dan menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari putusan.
  3. Dalam hal sidang permusyawaratan tidak dapat dicapai mufakat bulat, pendapat hakim yang berbeda wajib dimuat dalam putusan.
  4. Ketentuan lebih lanjut mengenai sidang permusyawaratan sebagaimana dimaksud pada ayat (2) dan ayat (3) diatur dalam Peraturan Mahkamah Agung.

Dengan demikian dissenting dalam sistem peradilan Indonesia adalah hal yang diakui, bahkan wajib dimuat dalam putusan. Adapun maksud dari pemuatannya tersebut adalah dalam rangka pengawasan intern di lingkungan Peradilan sebagai langkah mendapatkan hakim yang berkualitas, bermoral, dan berdedikasi tinggi dalam melaksanakan tugasnya, dan dalam rangka pengawasan ekstern yaitu agar masyarakat mengerti mengenai putusan perkara yang diberikan kepadanya berdasarkan pertimbangan atau pendapat tertulis yang diberikan oleh Hakim yang memeriksa perkara dalam sidang peradilan.

Baca Juga:  Perbedaan Putusan Sela Dan Putusan Akhir Pada Sidang Pengadilan

Kesimpulan:

Dissenting opinion adalah pendapat seorang hakim yang berbeda dengan hakim mayoritas, baik tentang pertimbangan hukum maupun amar putusannya. Pendapat Hakim yang disssenting opinion tersebut dimuat dalam putusan secara lengkap dan diletakan sebelum amar putusan.

Apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?

Rating rata-rata 5 / 5. 1

Maafkan kami artikel ini tidak bermanfaat bagi anda!

Berikan saran anda kepada kami tentang artikel ini

(Visited 161 times, 1 visits today)
Advokatus
+ Artikel Lainnya

Advokatus adalah tim yang berpengalaman menyajikan konten hukum berkualitas di IDLEGAL. Selain itu para advokatus juga bertugas menjawab pertanyaan atas permasalahan hukum yang diajukan pada fitur Forum Konsultasi Hukum Online di platform ini.

Kesulitan membuat kontrak?---Hubungi kami sekarang!---

Mulai Rp.500.000, sudah termasuk konsultasi