Generic selectors
Exact matches only
Search in title
Search in content
Dapatkan Legal Opinion dari Konsultan Hukum KamiAjukan Proposal Sekarang!

Mulai dari Rp.2.500.000

Perbedaan Keterangan Saksi Dan Testimonium de auditu

Keterangan Saksi merupakan salah satu dari lima alat bukti yang secara limitatif disebutkan dalam Kitab Undang – Undang Hukum Acara Pidana (KUHAP), yakni pada pasal 184 ayat (1). Bahkan keterangan saksi tersebut adalah alat bukti yang berada pada urutan pertama kemudian disusul empat alat bukti lainnya. Berikut adalah alat bukti yang disebutkan pada pasal 184 ayat (1) KUHAP:

  1. Keterangan saksi;
  2. Keterangan Ahli;
  3. Surat;
  4. Petunjuk;
  5. Keterangan Terdakwa.

Pengertian

Adapun yang dimaksud dengan saksi berdasarkan pengertian yang disebutkan dalam KUHAP, yakni padal pasal 1 angka 26 adalah sebagai berikut:

“Saksi adalah orang yang dapat memberikan keterangan guna kepentingan penyidikan, penuntutan dan peradilan tentang suatu perkara pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri

Sedangkan pengertian keterangan saksi disebutkan pada pasal yang sama yakni di angka 27, yaitu sebagai berikut:

“Keterangan saksi adalah salah satu alat bukti dalam perkara pidana yang berupa keterangan dari saksi mengenai suatu peristiwa pidana yang ia dengar sendiri, ia lihat sendiri dan ia alami sendiri dengan menyebut alasan dari pengetahuannya itu”

Dari pengertian saksi dan keterangan saksi tersebut di atas nampak bahwa penekanannya terletak pada peristiwa yang dilihat, didengar dan dialami sendiri. Hal ini sekaligus menjadi pembeda dengan alat bukti keterangan ahli, dimana yang ditekankan terletak pada pengetahuan ahli tersebut berdasarkan keahliannya bukan tentang fakta yang ia dengar, lihat dan alami sendiri.

Kemudian pada beberapa sidang perkara pidana sering kita mendengar istilah testimonium de auditu, dimana juga merupakan keterangan yang diberikan oleh seseorang  di muka sidang. Penjelasan lebih lanjut mengenai testimonium de auditu tersebut dikemukakan oleh Munir Fuady melalui salah satu bukunya, yaitu sebagai berikut:

“Testimonium de auditu adalah suatu kesaksian dari seseorang di muka pengadilan untuk membuktikan kebenaran suatu fakta, tetapi saksi tersebut tidak mengalami/mendengar/melihat sendiri fakta tersebut. Dia hanya mendengarnya dari pernyataan atau perkataan orang lain, di mana orang lain tersebut menyatakan mendengar, mengalami, atau melihat fakta tersebut sehingga nilai pembuktian ter­sebut sangat bergantung pada pihak lain yang sebenarnya berada di luar pengadilan. Jadi, pada prinsipnya banyak kesangsian atas kebenaran dari kesaksian tersebut sehingga sulit diterima sebagai nilai bukti penuh“

Dengan demikian nampak jelas bahwa perbedaan antara keterangan saksi dan testimonium de auditu terletak pada keterkaitan antara saksi dengan keterangannya, dimana keterangan saksi adalah keterangan dari orang yang melihat, mendengar dan mengalami sendiri suatu peristiwa pidana sedangkan testimonium de auditu adalah keterangan dari orang yang hanya mendengar dari orang yang menyatakan melihat, mendengar dan mengalami peristiwa pidana tertentu .

Kekuatan Pembuktian

Kekuatan pembuktian keterangan saksi sangat kuat, terlebih jika memperhatikan urutan alat bukti sah yang disebutkan dalam KUHAP. Namun keterangan saksi tersebut hanya sah apabila terhadap saksi bersangkutan terlebih dahulu diadakan penyumpahan di muka sidang. Hal ini guna memenuhi persyaratan yang ditentukan dalam KUHAP, yakni pada pasal 185 ayat (7) yaitu sebagai berikut:

“Keterangan dari saksi yang tidak disumpah meskipun sesuai satu dengan yang lain, tidak merupakan alat bukti, namun apabila keterangan itu sesuai dengan keterangan dari saksi yang disumpah dapat dipergunakan sebagai tambahan alat bukti sah yang lain”

Lalu bagaimana dengan kekuatan pembuktian testimonium de auditu. Terdapat beberapa pendapat terkait dengan hal tersebut. Oleh karena testimonium de auditu tersebut tidak disebutkan sebagai salah satu alat bukti sah dalam KUHAP maka dengan sendirinya ia tidak memiliki kekuatan pembuktian jika diajukan di muka sidang. Pendapat agak berbeda dikemukan oleh Munir Fuady, bahwa hal tersebut masih dapat digunakan sebagai bukti di persidangan tapi bukan kedudukannya sebagai keterangan saksi melainkan sebagai petunjuk. Hal ini dikemukakan melalui salah satu bukunya, yaitu sebagai berikut:  “saksi de auditu dapat dipergunakan sebagai alat bukti. Hal ini sangat bergantung pada kasus perkasus. Apabila ada alasan yang kuat untuk mempercayai kebenaran dari saksi de auditu. Jadi paling tidak keterangan saksi de auditu dapat dipakai sebagai petunjuk.”

Baca Juga:  Apa itu AMDAL, Tujuan Serta Manfaatnya?

Kesimpulan:

Perbedaan pokok antara saksi dan saksi testimonium de auditu terletak keterangan yang diberikan dimana saksi melihat, mendengar dan mengalami sendiri peristiwa bersangkutan, sebalikinya saksi testimonium de auditutidak memiliki keterkaitan langsung dengan peristiwa tersebut melainkan hanya mendengar pernyataan dari orang lain. Adapun kekuatan pembuktian keterangan saksi sangat kuat sepanjang memenuhi syarat yang ditentukan oleh undang – undang. Sedangkan keternagan dari saksi de auditu tidak termasuk sebagai alat bukti yang sah menurut KUHAP, namun pada situasi tertentu dapat digunakan sebagai alat bukti petunjuk.

Apakah artikel ini bermanfaat bagi anda?

Rating rata-rata 5 / 5. 1

Maafkan kami artikel ini tidak bermanfaat bagi anda!

Berikan saran anda kepada kami tentang artikel ini

(Visited 753 times, 1 visits today)
Advokatus
+ Artikel Lainnya

Advokatus adalah tim yang berpengalaman menyajikan konten hukum berkualitas di IDLEGAL. Selain itu para advokatus juga bertugas menjawab pertanyaan atas permasalahan hukum yang diajukan pada fitur Forum Konsultasi Hukum Online di platform ini.

Kesulitan membuat kontrak?---Hubungi kami sekarang!---

Mulai Rp.500.000, sudah termasuk konsultasi